(0 pemilihan)

Sekipan Pilihan

Naswa Hernissa R Januari 28, 2019

Sekipan

Oleh: Naswa Hernissa R

NaswaHari Jumat, tanggal 28 Desember 2018. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku dan keluarga yaitu, ayah, ibu, dan kedua adikku berangkat menuju ke gunung Lawu Kabupaten Karanganyar. Sebelum pergi ke sana kami mampir ke saudara kami yang di Kecamatan Mranggen. Kami pun berangkat dari Mranggen menuju ke Karanganyar melalui jalan tol.  

Mobil sudah melewati gerbang tol Gayamsari. Di mobil,  aku, adikku dan saudaraku bermain game memakai telepon pintar (smartphone). Kami sangat senang kalau mau pergi ke Gunung Lawu.

Ditengah perjalanan aku merasa mau buang air kecil. Perjalanan berhenti sejenak di rest area yang ada di jalan tol. Ternyata adikku juga ikut ke toilet.

Sampai di gerbang tol Banyumanik, aku merasa lelah. Aku pun tertidur di mobil. Pada saat aku bangun, perutku keroncongan karena lapar. Jajanan yang aku bawa dari rumah segera kumakan dengan lahap.

Setelah keluar dari jalan tol, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Sekipan. Sesampai di Bukit Sekipan, kami turun dari mobil dan menuju loket penjualan tiket. Tiket masuknya ada dua macam. Tiket terusan harganya Rp 100.000,00. Tiket reguler harganya Rp 50.000,00. Tiket terusan lebih mahal merupakan tiket. Kita tidak perlu membeli tiket lagi untuk menikmati wahana yang ada. 

Kami naik kereta gantung. Pemandangan nan indah di bawah terlihat dari atas. Wahana bermain mengendarai mobil juga ada, yaitu bom-bom car.  Di wahana mobil saling bertabrakan tidak perlu risau. Ada pengaman (bumper) di sekeliling mobil.

Di Bukti Sekipan juga ada bioskop empat dimensi. Film yang ditayangkan terlihat nyata dengan memakai kaca mata khusus. Ketika ada benda yang terbang dari depan kita, seolah-olah benda tersebut akan menabrak kita. Kamipun meliuk-liuk menghindar dari benda-benda tersebut. Selain itu kursi, tempat duduk kami, juga dapat bergerak-gerak sesuai jalan cerita film. Bahkan ada semprotan air dan hembusan angin dari kursi yang ada di depan kami.  

Kami berswafoto bersama hantu pocong, mobil kuno, dan miniatur keajaiban dunia. Adikku berforo seolah-olah sedang mendorong Menara Pisa yang sudah miring.

Tak terasa hari sudah siang. Saatnya kami istirahat dan membeli makan di lokasi. Setelah istirahat dan makan, kami melanjutkan masuk ke wahana Goa Hantu. Di dalamnya sangat gelap. Orang-orang yang masuk kesana berteriak ketakutan. Akupun menahan rasa takut, padahal kutahu hantu-hantu itu juga manusia. Penata artistiknya memang jagoan.

Setelah puas menikmati semua wahana. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah saudara kami di Karanganyar. Sesampainya di sana kami beristirahat, mandi dan melaksanakan salat magrib.

Malam harinya kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju ke puncak Cemara Sewu. Perjalanannya sangat mengasyikkan. Pada malam hari lampu-lampu dari rumah penduduk tampak seperti kunang-kunang. Berkelip-kelip.

Di sepanjang jalan hanya pepohonan cemara yang terlihat. Lebatnya hutan cemara yang berada di kanan-kiri jalan membuat tempat ini dinamakan Cemara Sewu. Sewu sama artinya seribu. Padahal hitungan pohon mungkin lebih dari seribu. Entah mengapa tidak dinamakan Cemara Sejuta.

Sebelum sampai di puncak, kami membeli makanan dan minuman. Udar di puncak sangat dingin. Dari mulut kami, keluar semacam asap. Seperti asap rokok. Kamipun membuka mulut dan meniup berkali-kali. Menurut Bu Intan, proses ini dinamakan pengembunan.

“Kita bernapas menghirup oksigen di udara lalu dibawa ke paru-paru. Setelah melalui proses pernapasan, tubuh kita akan mengeluarkan karbondioksida ke udara. Suhu di dalam tubuh kita itu hangat sehingga karbondioksida yang dikeluarkan pun hangat. Saat karbondioksida bertemu dengan udara dingin di luar tubuh, gas itu akan berubah menjadi cair. Inilah yang disebut sebagai proses pengembunan atau kondensasi. Saat kita berada di tempat yang dingin, kita akan mengeluarkan asap saat bernapas. Sebenarnya asap itu merupakan cairan dari hasil pengembunan tadi,” Bu Intan menjelaskan ketika pelajaran IPA sambil memperbaiki posisi kaca matanya.

Udara dingin membuatku merasa cepat lapar. Ibu kemudian membelikanku sate kelinci. Awalnya aku ragu untuk memakannya. Ibu membujukku untuk mencoba satenya. Aku mencoba satu tusuk. Ternyata rasa satenya enak sekali. Tak terasa 10 tusuk ludes masuk ke dalam perutku.

Hari semakin gelap. Kami memutuskan untuk kembali ke rumah saudara kami di Karanganyar. Sekitar pukul 11 malam, kami tiba. Kamipun segera meloncat ke pulau kapuk untuk tidur.

Keesokan paginya, kami diajak jalan-jalan ke lembah Sumilir Kemuning. Di sana pemandangannya sangat indah. Ada berbagai spot (titik) menarik untuk berfoto ria. Biasanya disebut tempat yang instagramable. Ada rumah pohon, gardu pandang, menara kincir angin yang tidak boleh ditinggal. Rumah hobbit juga boleh disebut sebagai daya tarik utama wisata di sana. Seharian penuh kami berada di sana. Tak terasa waktu sudah sore. Saatnya kami pulang.

Sekipan

Berfoto Bersama Keluarga di Bukit Sekipan Tawangmangu

 

Hari ini hari terakhir aku berada di Karanganyar. Kami sekeluarga berpamitan, dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Baca 1335 kali Terakhir diubah pada Senin, 28 Januari 2019 13:19