(0 pemilihan)

Khitanku, Liburanku

Brilian Ahmad N Januari 28, 2019

Khitanku, Liburanku

Oleh: Brilian Ahmad N

 

6. Brili

Libur semester satu telah tiba. Hari pertama libur sekolah kuhabiskan hanya di rumah saja. Bermain game, bermain dengan adik, atau menonton TV. Tidur-tiduran hanya santai-santai di rumah. Tidak ada kegiatan yang berarti. Demikian juga hari berikutnya.

Liburan biasanya kami sekeluarga pergi mengunjungi ke rumah kakek dan nenek di luar kota. Akan tetapi untuk liburan kali ini kami tidak melakukan itu. Aku tidak tahu alasan orang tuaku, kenapa tidak mengunjungi kakek dan nenek kali ini. Aku hanya mengunjungi kakek dan nenek yang rumahnya dekat dari rumahku.

Sepekan lebih sudah berlalu. Aku hanya di rumah saja. Waktu itu aku sedang menonton TV. Tiba-tiba terbesit sebuah keinginan.

“Aku ingin di khitaaaaan!” teriakku dalam hati. Sebuah resolusi masa liburan.

Kuutarakan keinginanku itu kepada orang tuaku. Ibuku kaget mendengar permintaanku. Karena awal liburan ibuku sudah menawarkan kepadaku untuk berkhitan. Tetapi waktu itu aku tidak mau. Akhirnya orang tuaku menyetujui keinginanku. Kemudian aku didaftarkan ke dokter oleh ayah. Kata dokter aku akan dikhitan hari Sabtu pagi.

Hari Sabtu pun tiba. Hari yang menegangkan bagiku. Aku dibangunkan ibu dan disuruh mandi. Padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 05.30. Terbayang kan? Masih dingin.

Pukul 08.00 kami berangkat ke dokter. Sesampainya di sana aku menunggu panggilan sesuai urutan. Beruntungnya aku, pasien yang datang tidak terlalu banyak. Aku pun tidak menunggu terlalu lama. Sebelum tiba giliranku aku bermain game untuk menghilangkan rasa tegang yang aku alami.

“Brili!” perawat memanggil namaku.

Aku pun masuk bersama kedua orang tuaku ke dalam ruangan putih. Beraroma tidak sedap. Perut berasa mual. Di dalam ruang ini, aku diminta berbaring di atas tempat tidur yang cukup tinggi.

“Tenang ya!” kata pak dokter. “Dijamin tidak sakit pas disunat.”

Aku hanya mengangguk sambil berusaha menenangkan pikiran tegangku.

Sebelum dikhitan aku dibius terlebih dahulu. Penghilang sakit ketika dikhitan.

“Aduuuuuuuh! Sakiiiiit!” teriakku kesakitan. Bulir air mataku pun berjatuhan membasahi pipiku. Sakit yang tak teperih. Luar biasa sakitnya. Dokternya bohong padaku. Sudah dibius pun masih terasa sakit.

Kata dokter itu disebabkan karena ada kelainan. Ayah yang menungguku sampai pingsan karena tidak tahan melihat aku yang menjerit-jerit kesakitan.

Proses khitanku membutuhkan waktu cukup lama. Hampir sekitar satu jam. Begitu proses khitan selesai aku merasa sangat lega sekali, walaupun rasa sakit selesai dikhitan masih terasa.

“Nah, sudah selesai Bil,“ kata dokter. “Sudah lega ya? Perbannya jangan dilepas dulu. Lusa, dua hari lagi kesini, biar dokter yang melepaskan,” lanjut pak dokter.

Dua hari kemudian.

Tibalah saatnya aku harus kontrol ke dokter. Kondisi masih diperban. Aku sedikit tegang karena takut nanti merasa sakit seperti waktu dikhitan. Dokter mengganti perbanku dan mengobati luka bekas khitan. Aku merasa lega karena hanya merasa sakit sedikit saja. Kemudian dokter menyarankan untuk kontrol lagi yang kedua.

Ketika kontrol yang kedua. Rasa takutku mulai berkurang karena luka khitanku sudah mulai mengering dan menurut perkiraanku dokter hanya akan mengganti perban lagi. Ternyata perkiraanku salah. Dokter tidak mengganti perbanku tapi justru melepas perban. Luka bekas dikhitan tidak perlu diperban lagi. Kata dokter, agar lukanya cepat kering.

Satu pekan setelah disunat, aku sudah tidak merasa sakit lagi. Lukaku sudah sembuh dan aku bisa masuk sekolah. Libur usai sudah.

Baca 1782 kali Terakhir diubah pada Senin, 28 Januari 2019 13:15
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Sekipan Dancing Water Fountain »